Infografis Hiv

HIV

Salah satu cara untuk menyajikan informasi tentang HIV secara mudah dipahami adalah dengan menggunakan infografis. 

Yuk, mari kita bahas lebih dalam tentang infografis HIV dan bagaimana ini dapat membantu meningkatkan pemahaman kita tentang penyakit mematikan ini.

Source: api.jatimnet.com

1. Data Terbaru: Jumlah Pengidap HIV di Indonesia

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, jumlah pengidap HIV atau Human Immunodeficiency Virus di Indonesia pada bulan Juni 2022 mencapai 519.158 orang. Penularan HIV masih didominasi oleh kelompok heteroseksual sebesar 28,1% dan LGBT sebesar 18,7%. Provinsi DKI Jakarta menempati urutan pertama dengan jumlah kasus HIV terbanyak di Indonesia mencapai hampir 100 ribu kasus. Sedangkan Jawa Timur dan sejumlah kabupaten/kota juga memiliki tingkat penularan HIV yang cukup tinggi. [1][2]

Source: cdn2.tstatic.net

2. Penularan HIV Melalui Hubungan Seksual dan Penggunaan Jarum Suntik Bergantian

Penularan HIV melalui hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik bergantian merupakan faktor yang berisiko tinggi dalam penyebaran penyakit ini. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, penularan HIV di Indonesia masih didominasi oleh kelompok heteroseksual dan LGBT. Oleh karena itu, penting untuk selalu menggunakan alat pengaman saat berhubungan seksual dan tidak menggunakan jarum suntik bergantian untuk mencegah penularan HIV. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan HIV melalui perilaku sehat juga menjadi kunci dalam menekan penyebaran penyakit ini. [3][4]

Source: fraksi.pks.id

3. LGBT Masuk Kelompok Berisiko Terinfeksi HIV

Kelompok LGBT termasuk dalam kelompok yang memiliki risiko besar terinfeksi HIV. Menurut data UNAIDS, pada 2019, populasi penderita HIV baru dari kalangan lelaki seks lelaki (LSL) dan transgender mencapai 18 persen. Risiko tertular HIV terbesar adalah kelompok LSL (22 kali), sementara kelompok transgender memiliki potensi risiko tertular 12 kali. Kewaspadaan perlu dilakukan untuk melindungi anak-anak dari tindakan seksual berisiko dan meminimalkan konten yang mempromosikan tindakan LGBT secara terbuka lewat media termasuk media sosial. Tindakan LGBT tidak sesuai dengan norma kebudayaan masyarakat di Indonesia. [5][6]

Source: gopos.id

4. DKI Jakarta Paling Banyak Kasus HIV

DKI Jakarta memiliki kasus HIV terbanyak di Indonesia, dengan jumlah mencapai 90.956 per Juni 2022. Data dari Kementerian Kesehatan pada 2021 menunjukkan ada 964 kasus positif HIV di Jakarta dari Januari hingga Maret, dari total 89.201 tes yang dilakukan. Pemprov mencatat sebanyak 72.638 orang menderita HIV-AIDS atau masuk dalam kategori ODHA hingga Desember 2021. Peningkatan kesadaran dan tindakan pencegahan HIV-AIDS perlu terus ditingkatkan di DKI Jakarta dan seluruh Indonesia. [7][8]

Source: www.tagar.id

5. Top 10 Provinsi dengan Kasus HIV Tertinggi di Indonesia

Per Juni 2022, di Indonesia terdapat 10 provinsi dengan kasus HIV tertinggi. DKI Jakarta menempati peringkat pertama dengan jumlah kasus sebanyak 90.958. Jawa Timur menempati peringkat kedua dengan kasus sebanyak 78.238, dan Jawa Barat menempati peringkat ketiga dengan kasus sebanyak 57.426. Penularan HIV masih didominasi oleh hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik dengan napza. Penting bagi masyarakat untuk menyadari dan melakukan tindakan pencegahan agar tidak tertular HIV. [9][10]

Source: pbs.twimg.com

6. Perbedaan Antara HIV dan AIDS

HIV dan AIDS seringkali disamakan oleh masyarakat, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. HIV adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam sistem kekebalan tubuh manusia, sementara AIDS adalah kondisi yang terjadi pada seseorang yang terinfeksi HIV selama beberapa tahun dan mengalami kerusakan parah pada sistem imun tubuhnya. Orang yang terinfeksi HIV bisa bebas dari AIDS dengan menjalani pengobatan yang tepat, sedangkan mereka yang mengalami AIDS pasti mengidap HIV. Perlu diingat bahwa satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang mengidap HIV adalah melalui tes yang tersedia di beberapa fasilitas kesehatan. [11][12]

Source: mmc.tirto.id

7. Pencegahan Penularan HIV dengan PrEP dan PEP

Pencegahan penularan HIV memiliki dua metode, yaitu PrEP dan PEP. PrEP adalah pendekatan pencegahan bagi orang sehat dalam menghindari terinfeksi HIV. Sedangkan PEP adalah pengobatan darurat bagi mereka yang terpapar HIV. PrEP biasanya menggunakan obat antiretroviral yang diminum sebelum dan sesudah melakukan aktivitas seksual atau jarum suntik. Sementara PEP memerlukan pemberian obat antiretroviral dan harus dimulai dalam waktu 72 jam setelah terpapar. Metode ini efektif jika dilakukan dengan tepat dan konsisten. [13][14]

Source: cdn.slidesharecdn.com

8. Infografis: Siklus Hidup HIV dan Pencegahan Resistensi Obat

Infografis ini menjelaskan mengenai siklus hidup virus HIV dan bagaimana obat-obatan dapat menghambat proses tersebut. Saat HIV memasuki tubuh manusia, ia menyerang sel CD4 yang memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh dan berusaha untuk menghancurkannya. Namun, dengan memahami tahapannya, para ilmuwan dapat mengembangkan obat yang dapat menghambat siklus HIV. Pencegahan resistensi obat juga diperlukan untuk memastikan efektivitas obat HIV bagi pasien. [15][16]

Source: slidewalla.com

9. Tips Adherence dalam Perawatan HIV

Adherence yang baik sangat penting untuk keberhasilan dalam perawatan HIV. Beberapa strategi yang dapat membantu meningkatkan adherence antara lain: melakukan diskusi mengenai strategi adherence sebelum memulai pengobatan ART, memeriksa adherence dalam setiap kunjungan, menggunakan metode monitor yang berbeda, dan memberikan regimen ART yang konsisten dan memungkinkan pasien untuk mengkonsumsi satu kali sehari. Penting bagi pasien dan pendamping untuk memahami betapa pentingnya adherence dan mendukung pasien dalam mencapai kesuksesannya. [17][18]

Source: pbs.twimg.com

10. HIV Tidak Menular Melalui Kontak Kasual

HIV tidak menular melalui kontak kasual seperti bersin, saling berbagi piring atau gelas, pelukan, atau ciuman. Virus hanya dapat ditularkan melalui cairan tubuh tertentu seperti darah, sperma, cairan vagina, dan ASI dari ibu yang terinfeksi ke bayinya. Oleh karena itu, tidak perlu khawatir dalam berinteraksi dengan ODHA karena HIV tidak menular melalui kontak kasual. [19][20]

Post a Comment

Previous Post Next Post

Contact Form